Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia 2. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2012

Perjalanan Hidup si Sebatang Kara


Yanto lahir di kota Wonogiri, ibu dan ayahnya meninggal saat Yanto masih kecil. Yanto diasuh oleh kakak dari mamanya bernama Partiyem, Yanto memiliki kakak perempuan, tetapi tidak tinggal bersama Yanto. Masa kecil Yanto sangat menyedihkan dan memilukan, saat Yanto kecil ia pernah ingin ditukarkan dengan jagung sebagai makanan pokok oleh Partiyem karena mereka sangat kelaparan dan sangat miskin.
“Le’ ayo ikut aku ke desa tetangga” ujar Partiyem. Le’ adalah panggilan anak laki-laki dalam bahasa Jawa.
“Iya Mbok” jawab Yanto. Mbok adalah panggilan ibu dalam bahasa Jawa.
Setelah berjalan kaki berkilo-kilo meter akhirnya mereka sampai, dan setibanya di sana ternyata Yanto ingin ditukarkan dengan jagung dan Yanto harus tinggal bersama orang yang sangat berkecukupan di desa tersebut.
“Le’ kamu tinggal bersama bapak ini saja, kalau sama aku, aku tidak bisa mengabulkan apa yang engkau inginkan, aku hanya seorang janda. Kita makan aja susah le’, tempat tinggal tidak layak, kalau kamu tinggal bersama bapak ini kamu akan disekolahkan, akan hidup enak le’, apa pun yang kamu inginkan akan diberikan“ ucap Partiyem dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku tidak mau mbok, biar aku hidup susah yang penting aku masih di asuh sama mbok. Aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali mbok.” Jawab Yanto sambil menangis.
“Sudah kamu tinggal sama bapak ini saja, kamu akan hidup enak le’, tidak aka sengsara” paksa Pariyem
Yanto tetap kekeh ingin tinggal bersama Partiyem Akhirnya, Yanto tidak jadi tinggal bersama bapak yang sangat berkecukupan itu dan ia langsung bergegas pulang dengan Partiyem.
Yanto duduk di bangku SD (Sekolah Dasar), dan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dengan biaya sendiri, ia bekerja serabutan mulai dari menggembala kambing, membajak sawah tetangga, hingga berjualan ke pasar. Yanto hanya memiliki dua stel pakaian sekolah, buku tulis, pensil, ia ke sekolah tidak menggenakan sepatu. Saat ujian akhir SMP ia harus ke kota karena ujiannya hanya diadakan di kota. Ia dan teman-temannya berjalan menuju kota karena kendaraan belum banyak pada zaman itu. Beberapa bulan kemudian hasil ujian keluar, Yanto dinyatakan tidak lulus, ia sangat sedih sekali. Akhirnya ia mengikuti ujian ulang, dan Alhamdulillah Yanto dinyatakan lulus.
“Mbok Alhamdulillah aku lulus”
“Alhamdulillah le’, kamu ingin melanjutkan ke SMA ?”
“Tidak mbok, aku ingin merantau saja ke Jakarta, ingin kerja di Jakarta mbok ?”
 “Kamu yakin le’ mau merantau ke Jakarta, kamu mau tinggal sama siapa di sana ?”
“Aku yakin mbok, izinkan aku mbok...”
“Baiklah aku izinkan, kamu hati-hati yaa le’ di sana semoga kamu menjadi orang yang sukses”
“Amin... Terima kasih mbok, doakan aku ya mbok”
Keesokkan harinya Yanto berangkat ke Jakarta, dengan harapan menjadi orang yang lebih baik dan sukses. Sesampainya di Jakarta Yanto langsung mencari pekerjaan, berjalan ke sana ke mari mencari pekerjaan. Karena Yanto tidak memiliki kerabat di Jakarta, maka Yanto bermalam di terminal, di pinggiran jalan, di masjid, bahkan di taman kota. Dinginnya malam, teriknya matahari di kala siang ia hadapi tanpa berkeluh kesah.
Setelah beberapa hari di Jakarta akhirnya Yanto mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di daerah Tebet.
“Kamu mulai besok dapat bekerja di rumah saya, pekerjaan mu setiap hari meyapu, mengepel, membersihkan garasi, berkebun, dan merawat anjing-anjing peliharaan saya”
“Baik tuan..”
“Saya mau semua bersih, dan setiap hari kamu harus lakukan itu semua. Kamu bisa tidur di lorong sana, atau di teras taman”
“Baik tuan, terima kasih”
Majikan ini sangat tidak manusiawi, Yanto mendapatkan pekerjaan yang sangat banyak, tetapi fasilitas untuknya tidak di berikan seperti kamar tidur untuk beristirahat. Karena mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi akhirnya Yanto mengundurkan diri setelah dua bulan bekerja disana.
Kemudian Yanto mencari pekerjaan lagi, ia mengelilingi Jakarta akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga lagi, kali ini ia menjadi pembantu rumah tangga di rumah artis yang terkenal pada eranya, di daerah Menteng. Kehidupan artis yang penuh dengan kemewahan ternyata membuka mata dan pikiran Yanto untuk rajin bekerja dan menabung untuk masa depan yang lebih baik. Pekerjaan Yanto di majikan yang kedua ini tidak terlalu berat, kehidupan artis malam menjadi siang dan siang menjadi malam membuat Yanto sering di suruh majikannya untuk membeli makanan dan minuman saat tengah malam.
Selama bekerja di tempat majikan yang kedua ini Yanto mendapatkan fasilitas dan kehidupan yang layak. Waktu senggang pun banyak ia dapatkan, di waktu senggang ia berusaha mencari sanak saudaranya yang tinggal di Jakarta dengan informasi yang ia miliki. Setelah sekian lama mencari akhirnya Yanto menemukan alamat saudaranya Sagimin yang tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
            “Tok... tok... tok... Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikumsalam. Kamu Yanto anak yang diasuh Partiyem ya ?”
            “Iya pakdeh”
            “Ayo ayo masuk, kamu kerja dimana sekarang ?” pakdeh Sagimin, sambil merangkul Yanto dan mempersilahkan Yanato duduk.
            “Aku kerja jadi pembantu di daerah Menteng pakdeh”
            “Kamu kerja yang rajin jangan males-malesan, sekarang cari kerja itu susah”
            “Iya pakdeh”
Setelah puas bercerita akhirnya Yanto pamit pulang, dan kembali ke rumah majikannya.
            “Kalau ada apa-apa kamu ke sini aja le’, pintu selalu tebuka buat kamu”
            “Iya pakdeh,  aku pamit pulang dulu, Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikumsalam, hati-hati di jalan ya”
Beberapa bulan kemudian Yanto mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga di rumah artis tersebut, karena ia mendapatkan pekerjaan baru tetap sebagai pembantu rumah tangga, hanya lokasi majikan yang ketiga ini lebih dekat dengan rumah saudaranya di daerah Barito, Jakarta Selatan.
Majikan yang sekarang sangat sangat baik, fasilitas apa pun lengkap, pekerjaan Yanto lebih ringan karena dia tidak sendiri sebagai pembantu di rumah tersebut, ada dua orang lainnya yaitu, ada tukang cuci baju, dan supir pribadi. Setelah 2 tahun bekerja di Barito, Yanto mendapat tawaran untuk tes menjadi karyawan di BUMN dari saudaranya yang bernama Tugimin.
“To, di kantor ku sedang membuka lowongan pekerjaan. Kamu coba ikut tesnya siapa tau keterima, kamu bisa menjadi pegawai tetap disana”
“Iya, pakdeh. Apa saja yang harus disiapkan ?” tanya Yanto
“Ijasah, surat lamaran pekerjaan, syarat-syarat lainnya nanti menyusul. Kamu titipkan ke aku saja besok, biar kamu besok masih bisa bekerja di rumah majikanmu.”
“Baik pakdeh akan aku siapkan, besok pagi aku ke rumah pakdeh untuk menitipkan surat lamaran ku”
Tugimin dan Sagimin telah bekerja di BUMN tersebut lebih dari 7 tahun, akhirnya Yanto mengikuti serangkaian tes di BUMN tersebut. Alhamdulillah Yanto lolos dan keterima sebagai karyawan BUMN, akhirnya Yanto izin kepada majikannya untuk mengundurkan diri sebagai pembantu di rumah tangga.
            “Tuan, saya ingin mengundurkan diri”
            “Kenapa Yanto ? Apa gaji mu kurang ?”
            “Tidak tuan, gaji saya cukup di sini. Saya sudah mendapatkan pekerjaan baru sebagai karyawan tuan.”
            “Ooh begitu, selamat Yanto. Baiklah, terima kasih kamu telah membantu saya di sini. Semoga kamu betah ya sebagai karyawan di tempat mu bekerja”
            “Terima kasih tuan, maafkan saya bila saya masih banyak kurang dalam pekerjaan saya“
            “Wah, kinerja mu bagus di sini, saya sangat berterima kasih. Mulai kapan kamu aka bekerja ?”
            “Lusa tuan, besok saya akan pindah ke rumah saudara saya tuan”
            “Oke, semoga kamu semakin sukses ya”
            “Terima kasih tuan”
Hari yang dinantipun tiba, hari pertama Yanto mulai bekerja sebagai karyawan BUMN di daerah Blok M, Jakarta Selatan. Hari demi hari Yanto lewati, sebelum Yanto memiliki rumah sendiri Yanto tinggal di rumah saudaranya. Dengan gigih dan semangat Yanto mengumpulkan uang hasil kerja kerasnya setiap bulan Alhamdulillah Yanto dapat membeli tanah dan membangun rumah.
Saat Yanto sedang berlibur ke Ciamis bersama pakdeh Tugimin, Yanto bertemu dengan wanita yang sangat cantik. Rambutnya lurus dan hitam, hidungnya mancung dan tubuhnya ramping, Yanto mulai jatuh cinta kepadanya. Yanto memberanikan diri berkenalan kepadanya
            “Hallo, nama kamu siapa ?”
            “Yati” dengan senyuman manis di bibirnya
            “Aku Yanto, kamu orang daerah sini ya?”
            “Iya saya orang daerah sini”
Usut punya usut ternyata Yati saudara jauh dari istri pakdeh Tugimin. Sesampainya di Jakarta Yanto pun memberanikan diri mengirimkan surat kepada Yati. Awalnya Yati enggan namun berkat dorongan dari nenek Yati, Yati pun berusaha untuk membuka hatinya untuk Yanto. Beberapa bulan kemudian Yanto meminta izin kepada orang tua Yati untuk meminangnya.
“Bapak ibu, izinkanlah saya untuk meminang putri anda” ucap Yanto
“Bagaimana Yati apakah kau ingin menikah dengan Yanto ?” tanya ayah Yati kepada Yati
Yati terdiam dan tertunduk malu, lalu Yati menjawab
“Iya aku mau ayah”
“Alhamdulillah” ucap ayah, ibu dan Yanto
Akhirnya Yanto dan Yati menikah, tepatnya pada tanggal 3 Juni di kota kelahiran Yati. Selang beberapa hari Yanto langsung memboyong Yati ke Jakarta untuk tinggal bersama Yanto di rumah yang telah di bangun Yanto di Jakarta. Dalam rumah tangga Yanto sebagai kepala keluarga yang menafkahi anak istrinya, Yati sebagai ibu rumah tangga.
Setelah setahun tahun menikah akhirnya mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Lia, dua tahun kemudian tahun anak kedua mereka lahir yang diberi nama Yana yang berjenis kelamin perempuan. Kehidupan mereka semakin hari semakin bahagia. Yanto dan Yati berprinsip setiap anaknya harus mendapatkan kasih sayang, memberikan fasilitas yang diinginkan anaknya, ingin menyekolahkan anaknya hingga menjadi orang sukses.
Pada usia pernikahan mereka yang ke-10 tahun Yati melahirkan anak ketiga berjenis kelamin perempuan yang diberi nama Yani. Keluarga kecil mereka semakin lengkap dan bahagia karena dua tahun kemudian Yati dikaruniai anak keempat berjenis kelamin perempuan yang diberi nama Rani.
Keempat anaknya mendapatkan kasih sayang dan fasilitas yang sama, mereka tidak membedakan anak yang satu dengan yang lainnya. Mulai dari mereka lahir hingga mereka kuliah di tempat yang sama. Yanto dan Yati selalu mengajarkan anak-anaknya untuk saling menyayangi, menghormati, bersikap adil, jujur, dan disiplin karena Yanto dan Yati sangat menyayangi keempat anaknya.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Lia dan Yana sudah menyelesaikan pendidikan mereka di bangku kuliah dengan menyandang gelar sarjana teknik. Lia menyandang gelar sarjana teknik industri dan Yana menyandang gelar sarjana teknik sipil. Selesai kuliah mereka langsung bekerja.
Saat Yani duduk di bangku kuliah tingkat 3, adiknya yang bernama Rani baru menduduki bangku kuliah dan saat itu juga Yanto pensiun. Yaa sudah sekitar 34 tahun pengabdian Yanto menjadi karyawan BUMN. Yanto sangat bersyukur bisa menyelesaikan tugasnya, dan menuai hasil dari kerja kerasnya selama ini. Memiliki rumah yang cukup besar, memiliki kendaraan pribadi, memiliki kontrakan, dan sebidang tanah. Tetapi hasil yang paling membanggakan adalah ia bisa mendidik dan menyekolahkan keempat anaknya hingga duduk di bangku kuliah.
“Alhamdulillah pak, kamu telah menyelesaikan tugas mu sebagai karyawan BUMN dengan masa pengabdian yang terbilang tidak singkat” ujar Yati
“Iya ma, Alhamdulillah. Semua yang kita inginkan sudah terkabul. Anak-anak telah tumbuh dewasa, Lia dan Yana sudah mapan. Tinggal Yani dan Rani yang masih duduk di bangku kuliah, Insyaallah aku masih sanggup membayai mereka hingga mereka menjadi sarjana”
“Amiiiin... Semoga kita masih diberi umur panjang dan selalu di berikan kesehatan oleh Allah ya pak”
“Amiiin Yaa Robbal’alamin”
Untuk mengisi hari-hari sebagai pensiunan Yanto memelihara ayam, bebek, burung, dan ikan. Ia mencoba peruntungan sebagai peternak, hal tersebut di dukung penuh oleh sang istri, dan anak-anaknya.
Perjuangan, kerja keras, dan semangat Yanto untuk dapat sukses di  kota besar sudah terkabul, bahkan ia mendapatkan lebih dari yang ia cita-citakan. Sifat Yanto yang semangat, penuh kasih sayang, pekerja kerja keras, dan disiplin menurun kepada keempat anaknya.



Rancangan Penelitian

 Rancangan penelitian atau design research adalah suatu rencana tentang cara mengumpulkan dan mengolah data agar dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan penelitian. Ada juga yang mengatakan rancangan penelitian adalah “blueprint” yang menjelaskan setiap prosedur penelitian mulai dari tujuan penelitian sampai dengan analisis data. Dapat disimpulkan bahwa rancangan penelitian adalah rencana untuk melakukan studi yang akan digunakan sebagai pedoman dalam mengumpulkan dan menganalisis data
Yang termasuk rancangan penelitian adalah: jenis penelitian, populasi, sample, sampling, instrumen penelitian, cara pengumpulan data, cara pengolahan data, perlu tidak mengunakan statistik, serta cara mengambil kesimpulan.
Jenis-jenis rancangan penelitian :
      Eksploratori
Rancangan penelitian yang lebih menekankan pada pengumpulan ide-ide dan masukan-masukan; hal ini khusus berguna untuk memecahkan masalah yang luas dan samar menjadi sub masalah yang lebih sempit dan lebih tepat.
Tujuan penelitian eksploratori adalah untuk membedah suatu masalah secara menyeluruh dengan teliti untuk memperoleh wawasan (insights) dan pemahaman (understanding).
Beberapa manfaat eksplorasi :
-          Merumuskan atau membuat batasan masalah secara lebih tepat dan rinci.
-          Mengidenifikasi alternatif arah tindakan.
-          Merumuskan hipotesis.
-          Mengisolasi peubah kunci dan saling hubungannya untuk penyelidikan lebih lanjut.
-          Memperoleh gagasan untuk mengembangkan pendekatan terhadap masalah.
-          Membuat prioritas untuk penelitian selanjutnya.
      Deskriptif
Rancangan penelitian yang lebih menekankan pada penentuan frekuensi terjadinya sesuatu atau sejauh mana dua variable berhubungan.
Tujuan penelitian deskriptif adalah menjelaskan suatu topik yang biasanya berupa fungsi atau karakteristik pasar :
-          Menjelaskan karakteristik kelompok tertentu misalnya konsumen, wiraniaga (salespeople), organisasi, dan area pasar. Misalnya penelitian untuk menentukan profil konsumen berat (heavy buyer) dari adipasar tertentu.
-          Estimasi persentase populasi tertentu dengan perilaku belanja tertentu.
-          Menentukan persepsi terhadap karakteristik produk.
-          Menentukan hubungan peubah perilaku belanja misalnya belanja sambil makan di luar rumah.
-          Membuat prediksi yang spesifik misalnya prediksi belanja pada adipasar tertentu pada daerah tertentu.
      Sebab Akibat Atau Causal
Rancangan penelitian yang lebih menekankan pada penentuan hubungan sebab dan akibat, tujuan :
-          Untuk memperoleh kenyataan yang hubungannya bersifat sebab-akibat.
-          Untuk mengetahui peubah yang menjadi penyebab (independent variable) dan peubah akibat (dependent variable) dari suatu fenomena.
-          Untuk menentukan sifat atau hakikat hubungan antara peubah penyebab dan peubah yang akibatnya akan dibuat prediksinya.
Komponen yang umumnya terdapat dalam rancangan penelitian adalah :
1.      Tujuan penelitian
Adalah hasil akhir penelitian itu sendiri. Fungsi tujuan penelitian, di samping untuk mengarahkan proses penelitian, juga dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan penelitian. Tujuan penelitian dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan penelitian (research questions) dan atau juga hipotesis penelitian.
2.      Jenis penelitian yang akan digunakan atau diaplikasikan
Beberapa jenis penelitian yang banyak dipakai adalah penelitian deskriptif, korelasional, eksperimental. Penelitian deskriptif bertujuan memberikan gambaran fenomena yang diteliti secara apa adanya, namun lengkap dan rinci.
3.      Unit analisis atau populasi penelitian
Populasi apa yang ingin digunakan dalam rancangan penelitian, seperti :
-          Ingin mengetahui kepuasan peelanggan, maka unit analisisnya adalah individu-individu pelanggan.
-          Ingin mengetahui kinerja antar departemen atau gugus kendali mutu, maka unit analisisnya adalah kelompok.
-          Ingin mengukur kualitas pelayanan kantor kecamatan, maka unit analisisnya adalah organisasi.
-          Menilai kualitas tepung terigu untuk membuat roti, maka unit analisis-nya adalah produk (benda), berupa tepung terigu.
4.      Rentang waktu dan tempat penelitian dilakukan
Rentang waktu ini di bagi menjadi dua, yaitu :
-          Cross section studies or One shot, penelitian yang dilakukan pada satu periode tertentu dan data dikumpulkan hanya sekali.
-          Longitudinal studies, data dikumpulkan dalam beberapa periode waktu tertentu untuk melihat perubahan yang terjadi mulai awal sampai waktu yang ditentukan secara berurutan. Misalnya untuk meneliti disiplin dosen, peneliti mengamati perilaku dosen selama empat bulan.
5.      Teknik pengambilan sampel
Secara umum ada dua teknik, yaitu :
-          Sampling probabilistik antara lain adalah simple random sampling, strafied random sampling, area sampling, dan clauser sampling.
-          Non probabilistik sampling antara lain accidental sampling, snow ball sampling, dan purposive sampling.
6.      Teknik pengumpulan data
Beberapa teknik pengumpulan data yang banyak di kenal, yaitu teknik wawancara, kuesioner, observasi, dan studi dokumentasi. Sebuah penelitian bisa hanya menggantungkan pada satu cara pengumpulan data, tetapi bisa juga mengkombinasikannya. Misalnya, untuk mencari data dari variable motivasi kerja menggunakan kuesioner, sedangkan untuk mencari data pendapatan, gaji, atau upah, menggunakan teknik observasi.
7.      Definisi operasional variabel penelitian
Bagi penelitian kuantitatif, langkah ini mutlak dilakukan. Definisi operasional variabel adalah upaya untuk mengurangi keabstrakan konsep atau variabel penelitian, sehingga bisa dilakukan pengukuran. Beberapa peneliti menggunakan istilah indikator. Misalnya, untuk mengukur disiplin dosen, maka dihitung frekuensi ketepatan masuk kerja, kepatuhan pada peraturan, dlsb. Untuk mengetahui produktivitas, dihitung perbandingan antara hasil herja dengan waktu kerja.
8.      Pengukuran
Jenis skala pengukuran untuk setiap variabel penelitian perlu diketahui dengan benar. Hal ini berguna untuk menetapkan rumus atau perhitungan-perhitungan statistik. Misalnya, untuk variabel yang berskala nominal tidak mungkin dihitung rata-ratanya. Skala pengukuran yang ada adalah nominal, ordinal, interval, dan rasio.
9.      Teknik analisis data
Sebelum data dianalisis, diolah terlebih dahulu. Maka dikenal proses editing, coding, master table, dan lain-lainnya. Analisis data mencakup kegiatan mengukur reliabilitas dan validitas, mean, deviasi standar, korelasi, distribusi frekuensi, uji hipotesis, dan lain sebagainya.
10.   Instrumen pencarian data
Ada beberapa alat yang dikenal sebagai alat pengambil data dalam penelitian sosial/bisnis. Alat-alat tersebut mencakup wawancara, kuesioner atau angket, observasi, dan studi dokumentasi.

Dalam membuat rancangan penelitian, harus mengacu pada kesepuluh komponen di atas agar penelitian yang di buat sesuai dengan standar yang ada.




Referensi :

Minggu, 01 April 2012

Dampak Perdagangan Bebas bagi Lulusan Sarjana Komputer

Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs Organization yang berpusat di Burssels, Belgium. Penjualan produk ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya.
Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antara individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.

Di era globalisasi semakin mudah masyarakat dalam mengakses informasi yang dibutuhkan sangat berbeda bila dilihat beberapa tahun kebelakang, untuk mendapatkan informasi cukup sulit. Mudahnya masyarakat dalam mengakses informasi disebabkan karena kemajuan teknologi yang semakin maju, berkembang dan tumbuh sangat pesat, seperti internet. Dengan internet masyarakat bisa mengetahui apa saja yang mereka inginkan didukung dengan banyaknya alat-alat teknologi yang dijual di pasaran seperti komputer, laptop, iPad, notebook, netbook, mobile phone, smartphone (android, iPhone, Blackberry, Symbian, Windows mobile, dan lain-lain) yang dapat di beli oleh masyarakat karena harganya yang relatif terjangkau, banyak fitur yang menarik, mudahnya dalam mengakses internet.

Berkembangnya teknologi membuat banyak lulusan SMA dan sederajat bahkan para karyawan/karyawati yang ingin meneruskan kuliah ke jurusan yang berhubungan dengan teknologi dengan predikat lulusan Sarjana Komputer (SKom) mereka berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, dan bergaji besar, seperti jurusan Sistem Informasi, Sistem Komputer, Teknik Informatika, Teknik Komputer, dan Manajemen Informatika. Seperti salah satu universitas swasta terkemuka di Depok, jurusan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi menjadi jurusan favorit para pendaftar, universitas tersebut membuka lebih dari 20 kelas, dan setiap kelas berisi sekitar 40 mahasiswa (tahun 2011). Itu hanya salah satu universitas swasta, dapat dibayangkan betapa banyaknya lulusan SKom 4 tahun yang akan mendatang. Hal tersebut menyebabkan persaingan di sektor teknologi semakin ketat dan bersaing dalam mendapatkan pekerjaan, sehingga setiap lulusan diharapkan memiliki hardskill dan softskill yang baik dan bermutu agar dapat dihargai besar oleh perusahaan yang membutuhkan atau dapat juga para lulusan membuka sektor usaha baru dengan demikian mereka dapat membuka lowongan pekerjaan untuk para pekerja.
Banyak juga lulusan sarjana komputer yang meneruskan gelar pendidikannya di luar negeri, lalu mereka  bekerja dan mengabdikan dirinya di luar negeri karena di luar negeri lulusan universitas lebih dihargai di bandingkan di tanah air.

Jadi sebagai lulusan yang menyandang gelar sarjana harus pandai-pandai dalam mengatur dan merencanakan masa depan agar tidak banyak pengangguran yang menjadi "sampah masyarakat".

Referensi :

Sabtu, 31 Maret 2012

Perbedaan antara Karangan Ilmiah, Non Ilmiah, dan Semi Ilmiah

Karangan merupakan karya tulis hasil kegiatan dari seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tertulis kepada pembaca untuk dipahami.
Karangan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :

1. Karangan Ilmiah
Karangan ilmiah atau karya ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian  yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Menurut Brotowidjoyo karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau keilmiahannya (Susilo M. Eko, 1995). 
Karya ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Objektif, sesuai dengan fakta dan data yang ada, sehingga siapa pun dapat mengecek kebenaran dan keabsahan karangan ilmiah.
  • Netral, setiap kalimat atau kata-kata yang disampaikan tidak memihak, mengajak, membujuk serta menjelekkan satu dengan yang lain.
  • Sistematis, disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan sehingga pembaca dapat mengikut alur penulisan.
  • Logis, dilihat dari pola nalar yang digunakan, pola nalar deduktif atau pola nalar induktif.
  • Tidak pleonastis, maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan atau tidak berbelit-belit.
Macam-macam karangan ilmiah diantaranya makalah, kertas kerja, pra-skripsi, skripsi, tesis, disertasi, paper (karya tulis).

Contoh karya ilmiah :
Pasal Bermata Dua
Sering kali warga masyarakat menyelesaikan kasus dugaan penyantetan dengan melakukan sumpah pocong. Soalnya, polisi tidak bisa menanganinya karena dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) memang tidak diatur. Yang ada baru sebatas rancangan. Dalam Pasal 255 Rancangan Undang-undang tenatng KUHP dinyatakan, “Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan magis, memberitahukan, menimbulkan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan kematian, penderiataan mental atau fisik seseorang dipidana penjara paling lama lima tahun”.
Antropolog dari Universitas Negeri Jember, Kusnadi, mengakui sumpah pocong efektif menangani kasus santen di tlatah Jember dan sekitarnya. Ini merupakan suatu mekanisme cultural masyarakat dalam bentuk pembuktian terbalik. Katanya, “Cara ini bisa diterima dan diyakini memiliki kebenaran dan nilai keadilan karena dipimpin oleh seorang tokoh yang alim dan langsung bersumpah di hadapan public dan Tuhan”.
Selama ini memang belum ada dukun santet yang bisa diseret ke pengadilan. Orang yang dituduh sebagai penyantet selalu diadili langsung oleh massa dengan cara keji, seperti yang terjadi di Banyuwangi pada tahun 1998 silam. Saat itu tak kurang dari 170 orang yang dituduh sebagai dukun santet mati dibantai oleh warga. Peristiwa serupa juga meletup di Ciamis, Jawa Barat, pada tahun 1999, dengan jumlah korban yang lebih besar, sekitar 200 orang tewas dihakimi warga.
Kusnadi kurang setuju soal santet dimasukkan dalam KUHP karena akan tetap sulit pembuktiannya. Ini juga bisa menjadi pisau bermata dua. Mungkin pasal ini bisa mengurangi praktik santet, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh orang untuk mencelakakan atau menjebak orang lain lewat tuduhan palsu.
Hakim Agung, Benjamin Mangkoedilaga memperkirakan, pasal ini tidak akan efektif. Persoalannya, orang yang melakukan praktik itu dan menyewanya dipastikan tidak akan mengaku. Selan itu, “Bagaimana orang bisa yakin bahwa perbuatan santet itu yang menyebabkan kematian seseorang? Bisa saja karena sebab lain”. Ia menyarankan agar hal yang sulit diukur dan diselidiki sebab-akibatnya seperti santet tidak perlu diatur dalm KUHP.

Sumber : Tempo, Edisi 29 September - 5 Oktober 2003, hal 126-127


2. Karangan Non Ilmiah
Karangan non ilmiah atau fiksi merupakan satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, ada unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting, dan lain sebagainya.
Ada juga yang menyebutkan karya non ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subjektif, tidak didukung oleh fakta umum, biasanya menggunakan gaya bahasa yang tidak terlalu formal, bersifat imajinatif, tanpa dukungan bukti, tidak memuat hipotesis, dan bersifat persuasif.
Dongeng, cerpen, novel, drama, komik dan roman merupakan contoh dari karangan non ilmiah.

Contoh karangan non ilmiah (dongeng):
Tikus Pembuat Bola Nasi
Pada jaman dahulu, ada sepasang Kakek dan Nenek yang amat sangat rukun. Setiap pagi Kakek pergi ke gunung menebang kayu, lalu menjualnya ke kota. Dan Nenek membuatkan tiga bulatan bola nasi yang lezat untuk bekal.
"Selamat bekerja Kek, hati-hati ya!" Nenek mengantarkan kepergian Kakek sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Terima kasih ya Nek, kalau aku makan bola nasi buatan Nenek, tenagaku bertambah."
Tiga bulatan bola nasi tadi dibuat dari beras mereka yang terakhir.
Kakek yang telah sampai di gunung, berkata
"Yo..ho! para pohon, aku akan mengganggu, aku akan menebang dahan-dahanmu yang kering"
Kakek mulai menebang dahan-dahan kering, dan mengumpulkannya.
Binatang-binatang datang berkumpul karena bau lezat yang disebarkan oleh bola-bola nasi itu.
"Kalau ini sudah selesai, kita akan sarapan. kalian pun akan ku bagi".
Kelinci dan Tupai yang rajin memakan bola-bola nasi itu membantu Kakek mengumpulkan dahan-dahan kering.
"Terima kasih ya,semuanya. Sebentar lagi kita makan bersama"
Lalu Kakek mengeluarkan bulatan bola nasinya yang pertama dan bermaksud membagi dengan semuanya, masing-masing sedikit. Tetapi tanpa disengaja, bola nasi itu lepas dari tangannya dan menggelinding.
"Ah, ah, bola nasi itu!"
Bola nasi yang amat berharga itu terus menggelinding ke lereng bukit.
"Hei bola nasi....! Tunggu....!"
Kakek pun berlari menuruni lereng bukit untuk mengejarnya. tetapi bola nasi menggelinding semakin cepat. Binatang-binatang yang akan dibagi bola nasi itu berteriak.
"Semuanya, ayo tangkap bola nasi itu!" Tupai, Kelinci, Kera, dan Rusa semuanya mengejar bola nasi.
"Hei! Bola nasi yang berharga, tunggu sebentar...!" Tetapi bola nasi itu terus menggelinding sampai akhirnya tiba di kaki gunung. Dan semuanya sudah menjadi lapar sekali. Bola nasi menggelinding semakin pelan, dan "plung" jatuh ke dalam lubang.
"Eh, bola nasi, kau jatuh ke lubang. Bagaimana ini?" Kakek mengulurkan tangannya ke dalam lubang yang gelap, ia bermaksud menggambil bola nasi. Tetapi tangannya tidak sampai. pada saat itu, dari dalam lubang terdengar suara musik gembira, "teng, teng, teng"
"Eh, ajaib!"
Kakek dan binatang-binatang itu lupa akan rasa lapar mereka. Mereka memasang telinga mendengarkan suara musik yang keluar dari dalam lubang. Beberapa saat kemudian, musik itu berhenti. Kakek merasa kecewa, kemudian ia menjatuhkan bola nasi kedua yang sebenarnya untuk makan malam. Suara musik itu kembali terdengar "teng, teng, teng".
"Wah, ini menyenangkan sekali! Aku jadi gembira" Kakek menjatuhkan juga bola nasi yang ketiga.
"Ah... ya, ya!" Binatang-binatang pun lalu menari. Kera meniru-niru gaya Kakek. Rubah dan Tupai juga menari. Burung-burung kecil senang dengan musik itu, mereka semua bergembira.
"Ah... ya, ya! Ketika mereka suara sedang menari mengelilingi lubang itu, kaki kakek terpeleset dan "bruk" Kakek jatuh ke dalam lubang.
"Kakek, selamat datang di negeri Tikus" Di dasar lubang itu para tikus meletakkan lentera kertas, dan menyambut Kakek.
"Kakek terima  kasih untuk bola-bola nasinya yang amat lezat"
"Pemimpin kami ingin mengucapkan terima kasih, meri kami antarkan kepadanya" Dengan diantar oleh tikus-tikus itu, Kakek masuk. Setelah keluar dari lorong yang gelap, tibalah Kakek di ruangan yang luas. Di sana telah menunggu Pemimpin tikus.
"Kakek, terima  kasih untuk bola nasi yang lezat. Sebagai tanda terima kasih, kami akan membuatkan makanan. Santai-santailah seperti di rumah sendiri."
Pemimpin Tikus memperlakukan Kakek sebaik mungkin.
"Coba, lihatlah itu!"
Ketika Kakek melihat ke arah yang ditunjuk oleh Pemimpin Tikus, ternyata di sana ada banyak sekali tikus-tikus membuat makanan dengan bola-bola nasi dari Kakek.
"Tok tok! Ayo buat makanan yang lezat. Tok tok."
Bola-bola nasi Kakek telah berubah menjadi makanan-makanan kecil, dan ketika Kakek mencoba menghitungnya, ada beratus-ratus. Kakek dibawa ke ruang tamu, dan di depannya telah terhidang makanan lezat. Lalu musik pun dimulai, dan gadis-gadis tikus yang cantik mulai menari.
"Karena bola nasi, kita bisa membuat banyak makanan, ayo kita rayakan dengan gembira" Kakek dan Pemimpin Tikus menyanyi dan menari.
Kakek mabuk karena sake, ia terus menari dan lupa akan waktu. Sayup-sayup terdengar bunyi genta dari kuil.
"Sudah senja. Nenek pasti sudah menunggu. Aku harus segera pulang, menjual kayu bakar ini dan membeli beras" Para tikus itu memberikan sebuah palu kayu keberuntungan kepada Kakek yang akan pulang.
"Palu ini adalah palu untuk memanggil kebahagiaan. Ambillah sebagai hadiah kami"
"Terima kasih atas jamuan dan hadiah ini" Kemudian Kakek keluar dari lubang yang berbeda dengan ketika ia datang.
"Selamat jalan, Kek! Buatkan lagi kami bola nasi yang lezat, ya"
Kakek berangkat untuk menjual kayu bakar dengan dilepas oleh para tikus. Kakek yang tiba di kota, segera pergi ke toko yang biasa membeli kayu bakarnya. Tetapi,
"Sayang sekali, karena hari ini datang terlambat, aku sudah membelinya dari orang lain" Demikian juga dengan toko lain. Kakek berjalan berkeliling kota, tapi tidak sebatang pun kayu bakarnya terjual. tanpa bisa berbuat apa-apa, Kakek pulang menyusuri jalan dengan lunglai. matahari senja mulai tenggelam.
"Malangnya aku. Aku sudah membuang-buang waktu. Kalau tadi aku menjual kayu bakar, pasti aku bisa membeli beras dan sayuran. Pasti Nenek sudah menunggu-nunggu"
Sambil berjalan Kakek menyesali diri. Dengan kaki berat, akhirnya Kakek tiba di rumah.
"Selamat datang, Kek. Hari ini Kakek tentu letih seharian. Setelah mencuci kaki, makanlah. Walaupun yang ada hanya ubi. Tidak apa, khan!"
Sambil makan ubi, Kakek bercerita tentang bola nasi dan tikus-tikus ajaib itu. Tiba-tiba muncullah tikus yang membawa lentera kertas. Nenek segera mendekap Tama, kucing mereka yang lalu bertingkah ganas.
"Apa ada yang ketinggalan?" tanya Kakek.
"Ya. Palu kayu keberuntungan. Palu ini adalah palu ajaib, kalau ada yang Kakek inginkan, goyangkan saja palu ini"
Setelah berkata demikian, tikus itu menghilang. Kakek segera berkata : "Makanan keluarlah!" Sambil berkata demikian, ia menggoyangkan palunya. Lalu muncullah makanan yang menggunung.
"Aduh enaknya makanan-makanan ini" Aku belum pernah melihat makanan seperti ini. Pasti, lebih enak bila dibandingkan dengan ubi. Kakek, Nenek dan Tama amat gembira sekali. Keesokan paginya, Kakek dan Nenek menggoyangkan palu kayu itu. Lalu mereka memuat makanan yang banyak itu ke gerobak, dan berkeliling desa. Mereka membagi-bagikannya kepada orang-orang yang miskin dan mereka yang membutuhkan. Karena merekalah, orang-orang desa yang miskin menjadi sehat. Selain itu, mereka semua menjadi giat bekerja, sehingga hasil sawah dan ladang mereka berlimpah ruah.
Kakek dan Nenek membuat banyak sekali bola-bola nasi dengan beras hasil panen mereka, dan pergi ke lubang tikus sebagai tanda terima kasih. Lalu binatang-binatang hutan pun berdatangan, dan mereka semua makan bola-bola nasi itu. Saat itu semua berbahagia dan bergembira.

Sumber : Elex Media Komputindo, Buku Dongeng Anak-anak Bergambar Tikus Pembuat Bola Nasi, Gramedia, Jakarta, 1993.


3. Karangan Semi Ilmiah 
Karangan semi ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan, penulisannya pun tidak semi formal tetapi sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah diatas karena jenis semi ilmiah memang masih banyak digunakan misalnya dalam dongeng, hikayat, komik, novel, roman, dan cerpen.

Contoh karangan semi ilmiah :
Ada Apa Dengan Sakit ?
Rata-rata orang yang gila kerja tidak merasa sakit kendati sedang sakit. Sebaliknya, orang yang hypochondriac selalu merasa sakit kendati sehat. Baron von Munhausen tercatat mahir melakukan peran secara meyakinkan sehingga dokter bedahnya berhasil dikelabui. Pasien begini merasa puas setiap kali dokternya kecele tidak menemukan penyakitnya.
Dalam keseharian pun kita melihat tidak semua yang datang ke dokter pasti sedang sakit. Wanita yang masuk kamar praktik dokter dengan dandanan menor, misalnya, hampir pasti tidak sedang sakit. Setidaknya tak ada yang tidak beres dengan badannya. Boleh jadi cuma lagi rindu pada dokternya.
Mungkin untuk urusan mengantar nenek pulang kampong, atau mertua kawin lagi, boleh jadi orang yang sebetulnya sehat minta dokter memberi label sakit. Besarnya otoritas dokter melabel sehat atau sakit, menjadi ruang bagi orang yang sebetulnya bukan pasien, dan tentu buat dokternya juga, bisa leluasa bersandiwara. Sebab suka atau tidak, setuju atau tidak setuju, sertifikat dokter legal di pengadilan hukum. Termasuk sertifikat yang dokter berikan kepada orang yang berpura-pura sakit.
Tarulah dokternya jujur. Orang ragu mengeluh ada rasa tidak enak di badan. Akan tetapi, keluhan tidak enak subjektif milik pasien. Andai keluhan Cuma dusta pun, dokter tidak bisa apa-apa. Sahih tidaknya keluhan sakit yang mengaku pasien belum tentu bisa dokter buktikan. Apalagi jika dokter tidak jujur.
Menjadi pelik jika orang yang mengaku pasien, misalnya menolak diajak dokternya, tidak mau bangkit dari kursi roda, mengaku tak mampu menjawab tes yang dokter berikan atau pengakuan dusta lainnya. Kondisi orang yang sebetulnya bukan pasien seperti itu berisiko menyesatkan dokter dalam menetapkan status medis. Itu sebab keluhan sakit yang dipercaya dokter bisa dijadikan tempat berlindung dan ruang sandiwara bagi pihak yang sebetulnya bukan pasien untuk berpura-pura sakit.


Referensi : 
Elex Media Komputindo, Buku Dongeng Anak-anak Bergambar Tikus Pembuat Bola Nasi, Gramedia, Jakarta, 1993.
http://amatirs.blogspot.com/2010/04/perbedaan-karangan-non-ilmiah-semi.html


Jumat, 09 Maret 2012

Penalaran Deduksi dan Induksi


Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Ada juga yang menyebutkan penalaran adalah bentuk tertinggi dari pemikiran, dan sebab itu lebih rumit dibanding pengertian dan proposisi. Secara sederhana penalaran dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan berdasarkan proporsi-proporsi yang mendahuluinya.
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif : 

1.     Penalaran Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu kemudian dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus atau dengan kata lain konklusi lebih sempit dari premis. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Contoh : Ada berbagai macam taman khusus yang ditampilkan di Taman Bunga Nusantara yaitu taman air, taman Perancis, taman mawar, taman rahasia (labyrinth), taman Bali, taman mediterania, taman gaya Jepang dan taman palem yang tertata sangat cantik.
Macam-macam penalaran Deduktif, diantaranya :
·        Entimen
adalah penalaran deduksi secara langsung. Dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
·        Silogisme
adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua pernyataan (premis) dan sebuah kesimpulan (konklusi ). Contoh :
Semua mahasiswa Gunadarma harus membuat penulisan ilmiah (premis mayor)
Rizki adalah mahasiswa Gunadarma (premis minor)
Jadi Rizki harus membuat penulisan ilmiah (konklusi)

2.     Penalaran Induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum, prosesnya disebut induksi. Contohnya : Dengan bahasa,manusia dapat menyampaikan bermacam-macam pikiran dan perasaan kepada sesama manusia. Dengan bahasa pula, manusia dapat mewariskan semua pengalaman dan pengetahuannya. Seandainya manusia tidak berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini. Memang bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
Ada 3 macam penalaran Induktif, diantaranya :
a.      Generalisasi
adalah proses penalaran yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus untuk diambil kesimpulan yang bersifat umum. Generalisasi merupakan bentuk dari metode berpikir induktif atau dengan kata lain konklusi lebih luas dari premis. Generalisasi mencakup ciri-ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangannya generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik dan sebagainya. Contoh : Bensin merupakan jenis bahan bakar apabila terkena api akan mudah terbakar. Demikian juga minyak tanah, termasuk bahan bakar yang mudah terbakar. Solar pun demikian pula halnya, bila terkena api akan mudah terbakar. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa semua jenis bahan bakar apabila terkena api akan mudah terbakar.
Dari segi kuantitas fenomena yang menjadi dasar penyimpulan generalisasi dibedakan menjadi 2, yaitu :
·        Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
·        Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
Dari segi bentuknya generalisasi dapat dibedakan menjadi 2 (Gorys Keraf, 1994 : 44-45), yaitu :
·        Tanpa Loncatan Induktif, sebuah generalisasi bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali.
·        Dengan  Loncatan Induktif, bertolak dari beberapa fakta namun fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Fakta-fakta tersebut (proporsisi) yang digunakan kemudian dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan.

b.     Analogi
merupakan perbandingan dua hal yang berbeda, tetapi masih memperlihatkan kesamaan segi atau fungsi dari kedua hal yang dibandingkan. Berdasarkan banyak kesamaan tersebut, ditariklah suatu kesimpulan. Contohnya : Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan berlayar. Sewaktu berlayar, ada saja rintangan seperti badai yang membuat layar kapala robek. Ada pula ombak besar yang menghempas kapal. Dapatkah seseorang melaluinya ? Begitu pula bila menuntut ilmu, seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran, dan sebagainya. Apakah Dia sanggup melaluinya ? Jadi, menuntut ilmu sama halnya dengan berlayar yaitu banyak rintangan untuk mencapai daratan.

c.        Sebab Akibat
sebab dapat bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. Akan tetap, sebab akibat ini dapat juga terbalik, akibat yang menjadi gagasan utamanya dan untuk memahami sepenuhnya akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciannya.

Referensi :